“Tidak boleh !” (Dameda!)
Rio berteriak dengan putus asa. Mengabaikan rasa sakit di lengan kanannya yang retak dan tulang rusuknya—
“Aishia!”
Dengan putus asa, aku memanggil nama Aishia.
Aku merasa itu bukanlah hal baik.
Jika aku membiarkan Aishia pergi disini…….
Aku merasa bahwa itu sama sekali bukanlah hal baik. Jadi――、
“huh?”
Rio mempercepat dengan putua asa menggunakan sihir roh anginnya untuk mengejar Aishia saat dia berjalan pergi.
“Bukankah aku bilang jangan datang!”
Aku berteriak.
“Aku bilang kita akan bersama selamanya!”
Karena semuanya ada di sini? Apa yang dia katakan?
“Itu, untuk semua orang…….”
Itu, untuk semua orang..……
“Semua orang termasuk Aishia!”
Rio berteriak. Lalu—
“Oleh karena itu, kamu tidak boleh pergi sendiri!”
Aku mencoba menjangkau Aishia, yang jauh di depanku. Seolah menggapai langit yang tak terjangkau.……
“Aishia!”
Rio memanggil Aishia.
Didepat sudut pandangnya, Erika berdiri di sana. Aishia melepaskan kekuatannya. Kekuatan ini awalnya bukanlan milik Aishia.
Tetapi—
(Aku tidak ingin Haruto sendirian lagi. Karena itu…..)
‘Aku akan menggantikan dirimu', kata Aishia, bertekad untuk menggunakan kekuatan itu. Untuk menghilangkan ancaman yang muncul di depan matanya, demi melindungi ikatan berharga antara Rio dan Haruto…..
“…… Mengapa kamu berusaha menggunakan kekuatan Ryuu no Ou, dasar cangkang menyeramkan? kamu menipunya dan mengambilnya darinya? Seperti yang dilakukan pada kami.”
Erika menatap Aishia dengan marah. Kekuatan sihir yang sangat besar meluap dari Erika bahkan membengkak lebih dalam mengikuti kemarahannya. Dan kekuatan keduanya membesar. Lalu, pada saat itu—
(…… Haruto?)
Aishia menoleh ke belakang dengan terkejut. Dia melihat bahwa kekuatan yang dia lepaskan mencoba terserap kembali. Diserap kembali ke pemilik sebenarnya, Rio.
“Tidak, jangan kesini!”
Aishia berteriak dalam panik. Dia menahan dengan putus asa untuk menjaga kekuatannya agar tidak terserap kembali ke Rio.
“…… Jadi begitu ya, Ryuu no Ou.”
Mata Erika menangkap aliran kekuatan yang bergejolak antara Rio dan Aishia. Dan kemudian, seolah-olah dia memahami sesuatu darinya, wajahnya berubah.
“Sudah kuduga, kamu juga……”
Dia memelototi Rio dan mengambil keputusan.
“Kamu telah mengkhianati kami!”
Dan kemarahannya mencapai puncaknya. Dia melepaskan sedikit alasan terakhir yang telah dia tahan dalam waktu terbatasnya.
Segera setelah itu, seolah-olah langit dan bumi telah terbalik, tsunami tanah muncul.
Jadi itu, akan datang……
◇ ◇ ◇
Itu bukan pemandangan dari dunia ini.
Benar-benar, bukan pemandangan dari dunia ini. Tanah bergetar, dunia bergetar. Lalu—
“Apa-apa, itu…..”
Pasukan kerajaan Galark yang berhenti bergerak di dekat danau, menaikkan tatapannya kearah itu dalam ketakutan. Bentuknya mirip dengan The Earth’s Beast. Tapi, itu bukanlah The Earth’s Beast.
Bahkan The Earth’s Beast terlihat kecil. Bentuk hidup yang sangat besar berada di sana. Tidak ada keraguan dalam pikiran bahwa itu adalah hal yang menyebabkan gempa ini. Itu benar-benar simbol dari bencana alam.
“Raggggggggghhhhhhh”
Dengan mata yang benar-benar kehilangan alasan, ia melihat ke langit dan berteriak dengan marah. Dan kali ini tanah terbalik.
“nh……!”
Sebagian besar dari kami yang berdiri di tepi danau menggigil lebih besar hingga jantung kami seolah hampir berhenti berdetak. Gunung berapi meletus dan material letusan menyebar.
Tidaklah cukup untuk menggambarkan hal itu. Bumi benar-benar terbalik. Tsunami tanah akan menelan semua yang terlihat. Hampir mendekati ke arah danau.
“Jadi inilah kekuatan para pahlawan……”
Francois, Raja Galark, bergumam pada dirinya sendiri seolah-olah dia telah menyerah pada segalanya. Legenda tentang pahlawan tidak pernah dilebih-lebihkan. Tidak, dia pikir tampaknya telah diremehkan. Setidaknya, tidak ada deskripsi tentang monster seperti itu dalam dekripsi informasi yang tersisa hingga hari ini.
“Apa itu pahlawan? Tidak, itu sudah……”
Itu adalah pertanyaan yang tidak perlu di pikirkan karena bagaimanapun kita akan mati. Tidak ada manusia yang dapat bertahan hidup dalam menghadapi yang ada di depan mata ini.
Hanya dalam beberapa lusin detik, Francois dan semua yang lainnya di danau akan ditelan dan mati. Tidak peduli pahlawan seperti apa kamu, kamu tetaplah manusia kecil. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk melawan bencana alam. Para prajurit pasukan Kerajaan Galark dari wajahnya tampak seolah-olah mengerti mereka akan mati. Beberapa dari mereka, seperti Duke Gregory, tidak dapat menerima kematian dan berteriak dengan jijik.
“Masih belum berakhir!”
Celia berteriak.
“Ya, itu benar!”
Latifa juga berteriak.
“Mereka berdua masih belum menyerah!”
“Kita tidak mungkin menyerah begitu saja!”
“Mari kita semua membuat penghalang!”
Sara, Alma, dan Orphia juga berteriak dengan putus asa, menyemangati diri mereka sendiri.
“Gunakan kekuatan sihirku! Semuanya!”
“Kumpulkan semua orang di satu tempat secepatnya!”
“Biarkan aku juga membantu dengan sesuatu!”
Miharu, Satsuki, dan Liselotte juga berteriak.
“………………”
Dalam situasi ini, François terdiam tidak bisa berkata apa-apa, ketika dia melihat di depan matanya para gadis yang percaya pada Rio dan Aishia dan tidak akan menyerah. Tidak peduli seberapa kuat penghalang sihir itu, luas area yang bisa digunakannya terbatas.
Mereka seharusnya tahu bahwa itu akan dihancurkan oleh material letusan yang bertiup atau hancur karena menahan massa yang luar biasa. Dan bahkan Rio, yang dia andalkan, baru saja dikalahkan tidak berdaya. Meskipun demikian, gadis-gadis itu tidak kehilangan harapan.
“Kita tidak punya pilihan selain mempercayainya, ayah. Nasib kita berada di tangan Haruto-sama dan Aishia-sama. Jika itu tidak berhasil, maka saat itu kita akan mati dengan terhormat.”
Charlotte melihat sekeliling pada perjuangan para gadis itu, tertawa kecil, dan berbicara dengan Francois. Dan itu membuat Francois mempersiapkan diri untuk yang terburuk juga--
“……semua pasukan, mereka yang bisa membuat penghalang sihir, menyebar, dan bersiap menghadapi benturan!”
Dia memberi perintah untuk melawan kematian.
◇ ◇ ◇
Langit dan bumi telah terbalik, dan akhir dunia sudah dekat. Dalam situasi seperti ini…..
“……Kenapa kamu datang kemari, Haruto?”
Aishia berhenti dan menghadap Rio, yang datang terlambat.
“Aku sudah, tidak mau lagi kehilangan ikatan dengan semua orang yang kumiliki. Aku juga tidak mau kehilangan Aishia. Aku ingin bersama dengan semua orang.”
Mungkin aku serakah. Mungkin itu keegoisan yang seperti anak kecil. Tapi, tetap saja, aku tidak ingin kehilangan apapun ikatan yang berharga.
‘Itu sebabnya--,' kata Rio kuat, mengungkapkan perasaannya.
“Tapi Haruto tidak bisa bersama semua orang lagi sekarang. Haruto akan kehilangan semua orang yang penting baginya. Kamu hanya cukup kehilangan diriku. Untuk menggantikan itu, aku……”
Sekarang, itu sudah terlambat. Aishia, yang hanya seorang yang menyimpan, tidak bisa lagi menggunakan kekuatannya. Seolah menyadari hal ini, Aishia menjadi tidak sabar dan wajah nya terlihat sangat sedih. Kemudian, dia menundukkan kepalanya seolah dia sangat menyesalinya.
“…..Aku selalu ketakutan. Aku selalu takut kehilangan orang yang penting bagiku. Tidak, bahkan sekarang, aku masih takut. Karena itu, Aku pernah berpikir mencoba untuk menjauhkan diri dari orang-orang yang penting bagiku. Namun……”
Dan itulah yang dikatakan Rio tentang dirinya.
“Aishia mengajariku bahwa aku tidak perlu melakukan itu. Aishia, telah menyelamatkanku dari kesendirian. Jadi……”
Rio melanjutkan. Aku harus menghadapi diriku sendiri sebagai pribadi.
“Jadi, tidak mungkin aku akan meninggalkan Aishia dalam kesendirian. Aku tidak akan pernah membiarkan Aishia pergi sendirian, mengetahui bahwa dia akan menghilang.”
Rio meraih bahu Aishia dan menatap lurus tepat di depannya, memohon padanya.
“Haruto……”
Air mata jatuh mengalir dari mata Aishia. Rio mengusapnya.
“Tidak apa-apa. Aku tidak bisa bersama semua orang. Aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud aishia dengan mengatakan itu, tapi aku tidak apa-apa dengan itu. Ini adalah keputusanku.”
Dan, dia tersenyum lembut pada Aishia. Lalu—
“Tidak peduli apa yang akan terjadi mulai sekarang, aku tidak akan menyesalinya.”
Pada titik ini, Rio mengalihkan pandangannya dari Aishia, dan dengan punggungnya mengarah ke danau tempat orang-orang yang penting baginya berada, dia menghadapi keputusasaan yang tepat sekarang mendekat di hadapannya.
Massa luar biasa yang memenuhi bahkan ke langit. Jika dia tetap berdiri di sana seperti ini, itu akan menelan Rio dan Aishia hanya dalam beberapa detik. Tetapi—
“Oleh karena itu..…!”
Rio melepaskan kekuatannya. Kekuatan apa ini, Rio masih tidak tahu. Tapi anehnya dia mengerti bagaimana menggunakan kekuatan itu.
Kekuatan itu anehnya seperti tidak asing di tangannya. Aku ingin tahu apa itu sebabnya.
(……Pedang)
Rio mewujudkan kekuatannya sebagai [pedang]. Aku sendiri yakin bahwa menggunakannya dalam bentuk ini adalah cara termudah bagiku untuk menggunakan kekuatanku sekarang. Ini tepat nya adalah hasil dari pemahaman intuitif ku tentang situasinya. Kemudian, Aishia berdiri di sebelah Rio.
“……Jika itu benar, kamu tidak bisa menangani kekuatan itu dengan tubuh manusia. Jika kamu menggunakannya secara paksa, tubuh Haruto tidak akan bisa menahannya. Tapi untuk itulah aku di sini.”
Saat dia berbicara, Aishia dengan lembut menyentuh tangan Rio yang memegang pedangnya. Kemudian, dia menghilang seolah-olah dia telah berubah menjadi roh. Tapi, tepat setelah itu--
“…………”
Rio tiba-tiba membuka mata dengan lebar. Dia bisa merasakan tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan. Tidak, dia bisa merasakan tubuhnya berubah.
Untuk memudahkannya menggunakan kekuatannya, Rio kini terkonversi menjadi keberadaan yang bukan manusia.*
( TL Note* = Hito Narazaru Sonzai)
(Dengan ini, tidak apa-apa. Sekarang, gunakan lah, Haruto)
Suara Aishia bergema.
“Aaahh!”
Rio mengayunkan pedangnya ke samping sekuat yang dia bisa. Kemudian, cahaya menyilaukan keluar dari bilahnya, menghempaskan semuanya. Detik berikutnya--
“…………”
Mereka yang berdiri di tepi danau kehilangan kata-katanya. Tsunami tanah yang seolah memenuhi langit dan bumi semuanya berakhir ditelan oleh cahaya yang menyilaukan.
Dan kemudian, ketika cahaya itu menghilang. Tsunami tanah telah menghilang tanpa jejak.
◇ ◇ ◇
Segera setelah tsunami tanah menghilang.
Saint Erika berdiri di tempat di mana bentuk kehidupan raksasa itu bangun. Jaraknya hampir satu kilometer jauhnya dari tempat Rio berdiri beberapa saat yang lalu, tapi—
“Hah”
Dalam hitungan detik, Rio telah menutup jarak dan menancapkan pedangnya ke jantung Erika.
“huh, huh .”
Erika memiliki senyum tipis yang mengintip dari mulutnya. Suara yang keluar dari mulutnya bukanlah suara pria, tapi suara wanita, Erika sendiri.
“Maaf……. Aku tidak punya pilihan selain melakukan ini.”
Dan, Rio memberi tahu Erika. Kali ini, Rio akan membunuh Erika. Rio saat ini mampu membunuh Erika yang saat ini lemah. Itu sebabnya dia mengatakan hal itu.
“Kamu sangat baik, yaa. Kamu. Meskipun tidak perlu meminta maaf seperti itu.”
Erika berbicara dengan mata yang kosong. Lalu---
“……Meskipun kamu tidak melakukan sesuatu, tidak lama aku akan mati. Aku mengetahuinya. Aku telah menggunakan lebih banyak kekuatan daripada yang bisa aku tangani. Dan aku akan mati sebagai kompensasi nya. Tapi…….”
Dia terus berbicara.
“Karenamu, aku bisa mati, bukan. Aku senang. Aku sangat senang. Selalu, selalu, aku ingin mati.…… Terima kasih, karena telah membunuhku.”
Erika tersenyum lembut, sangat bahagia dari lubuk hatinya yang terdalam.
“Kamu…….”
Rio tidak bisa berkata apa-apa.
--sebenarnya, kamu tidak benar-benar ingin melakukan hal seperti ini, kan?
Itulah pertanyaan yang muncul di benaknya.
“Manusia adalah makhluk yang sangat bodoh dan jelek. Itu sebabnya aku tidak menyesali apa yang telah aku lakukan. Bahka sekarang, aku masih berharap orang-orang bodoh itu menghilang saja. Tetapi beberapa dari mereka orang yang baik hati. Orang bodoh yang baik hati. Aku yakin kamu pasti salah satunya, yaa. Jadi aku punya permintaan untuk kamu yang baik hati. Meskipun, kamu tidak tidak perlu secara khusus untuk mendengarkanku.”
Erika berbicara dengan lancar, tetapi cahaya di matanya memudar dengan cepat. Dia benar-benar tidak memiliki waktu yang lama. Rio bisa memahami itu.
“Apa itu?”
“Sekitar 50 kilometer sebelah timur dari ibu kota negara yang aku dirikan. Ada sebuah desa di wilayah terpencil. Sebuah desa terburuk, di mana orang-orang terburuk tinggal. Jauh di pegunungan, dengan air terjun di sampingnya, adalah kuburan dia (kekasih)....… Jika bisa, disana aku juga…….”
Kesadaran Erika dengan cepat mulai memudar. Sejujurnya, penjelasannya tidak cukup, tapi—
“……Aku mengerti. Aku akan mencarinya.”
Rio mengangguk, entah bagaimana memahami situasinya.
“Terima kasih. Rikka-chan. Pada anak itu tolong katakan permintaan maaf ku. Dia adalah gadis yang sangat baik.……”
“……Ya.”
“Terima kasih. Dan selamat tinggal, pahlawan sejati. Mungkin tidak perlu dikatakan, tapi, hati-hatilah juga dengan pahlawan lainnya.……”
Cahaya akhirnya menghilang dari mata Erika saat dia meninggalkan kata-katanya dengan ekspresi puas di wajahnya.
◇ ◇ ◇
Dulu ada empat belas pilar para transendental di dunia ini. Dan dulu ada satu-satunya dewa yang pernah ada di dunia ini, menetapkan beberapa aturan mutlak bagi dunia.
Bahkan empat belas pilar transendental pun tidak bisa melarikan diri dari aturan tersebut. Sekarang, salah satu aturan telah diterapkan setelah melewati waktu seribu tahun.
◇ ◇ ◇
Miharu, Celia, Latifa, dan semua orang dari seluruh Kerajaan Galark berdiri tetap tercengang di tepi danau. Semua orang memiliki ekspresi tidak mengerti di wajah mereka, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka menyaksikan sebuah peristiwa yang seperti bencana alam, dan ketika mereka berpikir bencana itu telah berakhir. Itu wajar saja untuk mengatakan mereka akan kebingungan.
Lalu, seseorang mengatakan sesuatu.
“Hey…….”
Dengan ekspresi yang sangat resah di wajahnya, dia berkata.
“Yang berkelahi di sebelah sana, siapa sih?”
Test Comment
BalasHapus